Sabtu, 29 November 2008

Pesta Durian


Sebenarnya acara pesta durian ini sudah direncanakan sejak lama. Waktu itu pas lagi ngerjain artikel “Magazine Project” dari Dosen bahasa inggris. Awalnya untuk membahas artikel “Magazine Project” itu, berkumpullah dikostku, 2 sekawan (Maya dan Ratna) untuk mengubah rekaman hasil wawancara yang sudah kita laksanakan hari Jum’at ke bentuk tulisan dengan narasumber Wayan. Tapi ya gitu deh, namanya juga ibu-ibu, yang ada kita ngerumpi dulu bukannya membahas pekerjaan yang semestinya, dari rumpian itu, melebar-melebar, dan akhirnya malah sampai ngomongin durian. Karena didepan Harmony sepertinya masih ada mobil pick up yang mangkal jualan durian, maka untuk menghindari pekerjaan men-translate hasil wawancara itu, aku menawarkan diri untuk mencari durian. Si dua sekawan, karena secara mereka memang pecinta durian (bukan pecinta duda irian lho!!), menyetujui penawaranku dengan muka kegirangan karena akan menikmati durian.

Akhirnya aku melaju ke depan Harmony dengan motorku, sementara si dua sekawan aku tinggal dikost. Sepertinya si Maya malah browsing blog dan friendster Wayan. Proses tawar menawar dengan penjual durian tidak menarik untuk diceritakan, jadi langsung saja pada kesimpulan aku jadi membeli 3 buah durian dan aku segera kembali ke kost dengan membawa durian. Sesampai di kost aku tanya, sudah sampai mana menyalin rekamannya? Dengan settingan muka khas Maya –yang tidak pernah tidak dihiasi dengan senyum- hanya bilang “belum ngerjain, saya lagi chatting untuk minta pendapat teman-teman tentang Wayan?”. Excuse yang bagus, menurutku. Dengan sedikit bijaksana aku mengusulkan, “durennya dimakan dulu aja yuk!”

Kita menikmati tiga durian itu tanpa jeda, begitu yang satu habis yang satunya dibelah. Sayangnya duren yang pertama sama sekali tidak berasa, duren yang kedua berasa tapi tidak begitu manis, plus ada satu bagian yang busuk. Baru pada duren ketiga yang OK! (T2 kaleee....). Nah, secara kan ibu-ibu, ga mungkin dong makan ga sambil ngerumpi, ketika lagi makan itulah gara-gara si dua sekawan menceritakan suka beli Durian Montong di Total Buah Segar, terus di tambahin katanya puas deh pokoknya, aku jadi sedikit (eh banyak kali ya) tertantang, dan akhirnya nyeplos-lah kata-kata begini “Bagaimana kalau kapan-kapan, kita pesta Durian?”, dan tentunya mereka tanpa saling menatap tidak percaya lebih dahulu langsung bilang “mauuuuu.........”

Semenjak itu, aku rajin browsing membuka www.carrefour.co.id, siapa tahu ada katalog yang mencantumkan durian montong plus harganya dan ke Total Buah Segar, hanya buat ngecek harga. Sayangnya di katalog Carrefour tidak ada, dan di Total harga sekilo durian montong masih dua kali lipat(bahkan lebih) harga sekilo telur ayam curah, makanya dengan sangat terpaksa acara pesta durian-nya masih berstatus pending, eh waiting approval (aduh, dipikirnya friendster kali ya bo’), bahkan sampai UAS belum terlaksana.

UAS minggu pertama usai, weekend adalah kewajibanku untuk berkunjung ke Cijantung. Yap, aku ketempat bapak dan ibuku (mungkin banyak temanku yang belum tahu, kalau bapak dan ibuku di Cijantung). Ketika itu pula terbersitlah pencerahan, pencerahannya begini : bukannya disini dekat dengan Pasar Induk Kramat Jati (yang belum tahu Pasar Induk Kramat Jati, pasar ini khusus berjualan sayur-mayur dan buah-buahan, catet itu!), pastinya ada Durian dong, kayaknya didepan pasar induk ada kios khusus jualan durian deh (aduh, kios apa lapak ya? Lupa deh). Masa di Ceger Raya saja ada, di Kramat Jati ga ada? Sangat amat tidak mungkin gitu lho. Invasi akhirnya dimulai, dan aku berhasil membawa 2 durian dari sana. Adanya durian lokal dan harganya? aduh ga perlu disebut kali ya, takut ketahuan kalo ga bisa nawar (tapi kalau nawarin diri pinter, kan?-aduh siapa sih yang nyeletuk?-). Satu durian aku belah disana dan rasanya mmmmm..... enaaaakkkk..... yang satu lagi aku bawa ke kost. Di kost aku makan sama temanku dan rasanya ga kalah enak. Ketika menikmati durian itu, aku kembali nyeletuk “ kalo tadi duriannya bawa ga hanya satu aku undang deh Maya sama Ratna, soalnya kita dah bikin plan untuk ngadain pesta durian”. Temenku bilang “jadi, gue ga diajak?”, akhirnya “Ok, officially, u are the member of Durian Party”.

Hari terakhir UAS. Aku membuka kembali lembaran kisah mengenai pesta durian dihadapan ibu-ibu, tapi sepertinya ibu-ibu itu sedang merencanakan acara mereka sendiri. Aku pikir awalnya mereka sedang membicarakan pengen ganti model rambut bareng-bareng di salon mana gitu, eh ternyata mau masak-masak bareng. Karena waktunya bentrok, ya sudah acara pesta duriannya ngalah atau diundur, atau tidak diundur tapi “joint venture” dengan acara ibu-ibu dengan satu syarat, Anggota baru itu mau bergabung dengan acara ibu-ibu. Tapi apapun keputusannya yang jelas aku mesti hunting duriannya dulu. Sudah aku batin sebenarnya, pasti si anggota baru ini ga mau gabung sama ibu-ibu (aduh, takut ga kelihatan macho atau gimana ya, dalam pikiran si anggota baru itu? aduh sutralah bo’ gw ga tahu alasannya). Akhirnya pesta durian diundur besoknya, dengan konsekuensi, aku harus menyimpan durian-durian itu supaya baunya terkendali. Durian itu aku bungkus plastik dan aku masukkan kardus, kemudian aku tutup rapat-rapat. Tapi tetap saja, sepandai-pandai orang menyimpan durian, baunya akan tercium juga. Hikz...semalaman aku mabok bau durian.

Paginya dapat sms kalau tim “Magazine Project” harus berkumpul. Mau tidak mau aku harus kumpul. Setelah melewati pertemuan yang kurang efektif itu (acara direncanakan mulai pukul 9, tapi baru dimulai pukul 11, dan selesai pukul 12:30), sesampainya dirumah aku mengirim sms ek member durian party “are u ready for durian party?”. Si anggota baru membalas sms-nya begini “jam berapa? Baru bangun”. Hah?!!!??? (ini adalah ekspresiku – ekspresi menanggapi tentang baru bangunnya itu- ketika sedang membaca sms-nya itu, tentunya dengan mulut sedikit menganga dan alis terangkat-semoga tidak ngondek-. Semoga itu tidur siang, kalau dari semalam tidurnya dan jam 13:15 baru bangun, bisa disiram ibuku kalau subjek-nya itu adalah aku atau anggota keluargaku). Sementara si dua sekawan tidak membalas sms, tetapi langsung telpon.

“jam berapa rencananya? Kita sedang masak nasi goreng, hihihihi....” (bener ga ya, menggambarkan ekspresi tertawa Maya dengan kata-kata berhuruf H dan I itu?)

“rencananya jam 2 ini”

“aduh ga bisa win, soalnya baru mau mulai masaknya, kalau mau kamu kesini aja, hihihihi...(lagi)”

Well, aku harus ambil keputusan

“(aduh masak wae ki jane sing dimasak opo to yo?-dalam hati-) ya udah deh aku coba hubungi anggota baru itu, kalau dia tetep ga mau, nanti aku tinggalin satu durian buat dia, yang lain aku bawa kesana aja, kita makan ramai-ramai, soalnya kalau lama-lama disini, aku yang mabok sama baunya” (sebenarnya tidak terdengar diplomatis), tapi.....

“horeeeeeee...........” untung tanpa hihihi...

Waktu itu motorku lagi dipinjem sama Estin. Katanya dia mau ke Bank terus shopping. Ketika deal dengan acara ibu-ibu itu aku sms Estin. Beberapa menit kemudian dia membalas dan aku malah berhasil menyandera dia untuk gabung dengan acara ibu-ibu itu dan menemaniku kesana. Saat itu juga aku meluncur ke lokasi yang dituju (kontrakannya Fenny) dengan sepeda motor (footnote: aku mbonceng motor, yang ngendarain tetep Estin, alasanku karena aku bawa duren, hehehe, padahal se-STAN dah pada maklum akan kemampuanku naik motor). Sampai di lokasi bertepatan dengan nasi goreng buatan Tika matang, akhirnya kita berenam (Estin, Fenny, Atika, Maya, Ratna, dan Wina-ooppss-) menikmati dulu nasi gorengnya. Bocoran: pukul 13:00 aku baru selesai makan di bu Bor, dan ketika disuguhkan nasi goreng aku tetap ga nolak, itupun dengan porsi yang terbanyak, ampun DJ! gimana kagak gendut. Selesai makan nasi goreng buatan Tika yang enak –jujur Tika, enak, nanti bikin lagi hya....-, kita mulai “Pesta Durian” yang ditunggu-tunggu (kayaknya yang nunggu hanya aku, Ratna dan Maya, sementara yang lain biasa-biasa aja). Ahhh, akhirnya terwujud juga rencana pesta duriannya setelah melewati perjuangan dan alur cerita yang berliku-liku. Dan sumpah rasa duriannya enaaakkkkkk.....

Tidak ada komentar: