Selasa, 31 Maret 2009

Catatan Makan Malam


Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB dan aku sedang merencanakan untuk makan malam (sendiri). Seharian ini karena ingin sedikit menekan laju berat badan, aku mengkonsumsi sedikit makanan yaitu sarapan hanya dengan sepotong pepaya, dan makan siang dengan indomie rebus pakai telor dan bakso sapi ditambah enervon C plus pisang sebagai buah (sedikit atau banyak tuh ya? Hehe). Alhasil malam ini aku begitu lapar.

Sempat terpikir untuk meluncur ke Bebek Goreng, tapi atas saran seorang teman, aku batalkan karena takut dapat sisa-sisa. Akhirnya mantap sudah tujuanku, aku ingin makan tongseng kambing.

Aku segera meluncur ke tempat kejadian perkara. Suasana disana cukup ramai dengan serombongan keluarga besar yang sudah menikmati makanannya. Pelayan segera menghampiriku untuk mencatat pesananku : tongseng kambing, nasi putih dan es teh manis. Setelah itu aku menunggu pesanan tersebut siap disajikan. Dan inilah rentetan kejadian ketika masa menunggu sampai pesananku siap disajikan.

Kejadian pertama adalah aku melihat sepasang manusia yang turun dari motor dan menuju ke Soto Lamongan. Salah satu dari mahluk itu sangat tidak asing bagiku. Tubuhnya cukup tipis dan langsing, dialah Pujiyanto. Sayangnya jarak yang cukup jauh tidak memungkinkanku untuk berteriak memanggilnya, aku kan orang yang well behave, hehehe... Soto Lamongan-nya sepertinya sudah habis maka dua mahluk itu pindah ketempat lain.

Kejadian kedua adalah salah satu anak dari rombongan keluarga besar itu, naik ke meja makan masih lengkap dengan sepatu kotornya, kemudian berteriak-teriak, padahal hanya untuk mengambil kerupuk. Aduh, untung lagu yang aku dengerin dari HP-ku adalah “I Have Nothing”-nya Whitney Houston yang slow abis itu. Coba kalo Guru Josh Project dengan Infinity-nya, mungkin akan menginspirasinya untuk ikut naik ke meja kemudian nge-dance layaknya sexy dancer pada waktu di 66 club Bali beberapa waktu lalu. Arghh, maksudnya begini, kenapa sih tuh anak ga diajarin yang bener (mungkin karena masih kecil kali ya, ya sudah biarin saja lah). Tapi kayaknya nanti aku akan menemukan jawabannya di kejadian ke empat.

Kejadian ketiga adalah diseberang jalan aku melihat Yasser dan temannya. Mereka sedang ingin makan malam juga, dan sepertinya mereka memilih Mie Gayeng Jogja atau Sate Ponorogo, warung sebelah. Kejadiannya serupa dengan Pujiyanto karena jarak yang jauh dan aku adalah orang yang well behave, maka aku tidak berteriak untuk memanggil dua mahluk itu.

Kejadian ke empat persis terjadi sesaat sebelum pesananku disajikan. Aku yang sudah sangat kelaparan tiba-tiba jadi sedikit emosi. Kejadiannya begini, si Bapak dari rombongan keluarga besar itu sudah selesai mengurus administrasi makan malam itu, kemudian dia menghampiri meja makannya tadi yang sekarang tinggal istri dan anaknya yang besar, sementara anggota lain sudah ngacir ke mobil. Ketika anaknya mau berdiri untuk mengikuti rombongan lain, tiba-tiba didorong sama si Bapak sampai kembali terduduk di kursinya sambil tertunduk. Kemudian diomel-omelin macem-macem. Intinya si Anak bermasalah karena tidak mengerjakan PR dan kena marah gurunya, dan guru ini menyampaikan ke Ibunya. Sayang seribu sayang keluarga ini memilih “pengadilan” untuk anaknya ditempat umum yang buntutnya menyita banyak perhatian karena si Anak sampai nangis sesenggukan. Tadi saja waktu ndengerin bapaknya ngomel-ngomel, pengen banget rasanya mengeluarkan kata-kata “CUT”, xixixi...

Si Anak dituduh kebanyakan main sampai lupa mengerjakan PR. Hmm... tiba-tiba memoriku berputar ke beberapa tahun lalu ketika umurku seumuran tuh anak. Gila! bermain? Aku pengen banget bermain. Tapi ketika seumuran anak itu, Please ya, jangankan bermain meskipun itu hari minggu atau liburan sekolah, ibuku memerintahkan TIDAK BOLEH BERMAIN. Aku harus menjemur gabah dan perintah itu merupakan harga mati kalau sudah keluar sebagai perintah ibuku. Sementara menunggui gabah supaya tidak dimakan ayam, burung atau keduluan dengan hujan, aku membayangkan bisa bermain kelereng, gambar, atau betengan sama teman-teman. Masa kecil yang suram, hihihi.... makanya Nak, lanjutkan perjuanganmu, terus saja bermain, bermainlah sebelum bermain itu dilarang tapi jangan lupa mengerjakan PR, kalau ga boleh bermain laporkan ke Kak seto saja, hihihi...kok aku ngajarin jelek ya?

Pesanan sudah disajikan dan untung keluarga yang baru saja menjadikan tempat makan itu menjadi pengadilan untuk anaknya sudah kabur, kalau nggak bisa merusak selera makanku. Nyam..nyam.. enak dan kenyang. Terima kasih Tuhan.

Sabtu, 28 Maret 2009

Salut

Hah, akhirnya menemukan sesuatu yang patut diangkat untuk ditulis kedalam blog. Sore ini aku iseng jalan-jalan berkeliling karena kebetulan di kost sudah bete dan ga ada kerjaan. Sebenarnya aku tadi siang merencanakan untuk pergi, tapi karena tiba-tiba hujan deras dan sampai sore ini cuacanya masih mendung maka aku membatalkan rencana itu.
Aku seharian di kost hanya membuka laptop, browsing internet, chatting, cek facebook, nonton televisi, balik lagi ke laptop begitu seterusnya seperti labirin. Setelah mata perih, aku tidur siang, apalagi pas hujan, benar-benar mak nyus buat tidur. Bangun tidur, makan siang di warung padang, kemudian kembali lagi ke laptop dan menonton televisi. Headline untuk semua media baik koran (yang tadi aku lihat di warung padang), detik, kompas, dan televisi adalah tentang Tragedi Situ Gintung. Aduh sebenarnya aku mau nulis apa sih. Oh, iya gini gini, jadi karena tadi seharian aktivitasku hanya berputar-putar disekitar laptop, internet, dan televisi maka pada sore harinya aku mengalami kebosanan yang lumayan akut, sehingga aku memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling pakai motor sekedar untuk menghidup udara (yang ga tahu segar atau nggak, secara kan banyak kendaraan gitu deh). Itulah intinya. Aduh susah amat sih nyari conjuction atau penghubung suatu cerita.
Nah, disinilah bagian menariknya, ketika aku melewati jalan Ceger tepat didepan kompleks PJMI yang sering macet karena banyak kendaraan yang muter kearah Cipadu, aku melihat jaket yang begitu familiar tapi punyaku sendiri sudah raib sehingga aku tidak punya, yaitu jaket almamater STAN. Anak-anak STAN cowok dan cewek sedang melakukan aksi kemanusiaan dengan menggalang dana di jalan untuk disalurkan ke korban Tragedi Situ Gintung. Waduh, hebat juga tuh anak-anak. Dari tampangnya, aku menebak mereka anak-anak DIII (secara masih brondong-brondong gitu deh, emang aku yang sudah tuwir), padahal mereka, kan libur panjang karena habis UAS. Wow...salut deh, jiwa kemanusiaan mereka langsung terketuk untuk menyelenggarakan aksi kemanusiaan, sementara aku sibuk memantau apakah jalan menuju Ciputat-Lebak Bulus sudah lancar atau belum dan sibuk memantau cuaca, apakah akan menghalangi kalau aku pergi, selain sibuk browsing, cek facebook dan chatting tentunya. Seharusnya mereka kan mengikuti jejak-jejak temannya, pada pulang kampung nengokin enyak sama babenya, adiknya, kakaknya, embahnya, pamannya, pacarnya (kalau kebetulan punya pacar di kampung), atau kambingnya, siapa tahu kan? Tapi kok nggak, jangan-jangan ga punya ongkos lagi, hihihi... jahat banget sih! Sudah bagus memiliki jiwa kemanusiaan gitu dan seharusnya dicontoh malah dituduh yang nggak-nggak, siapa tahu kan mereka memang anak-anak yang rumahnya dekat-dekat sini. Yap, mari kita positif thinking.
Begitu lewat depan kampus STAN (masih di jalan Ceger), lho kok ga ada aksi disini, padahal kan seharusnya aksinya disitu juga ada karena berdekatan lokasi kampus, jadi orang tahu siapa yang mengadakan aksi itu. (Aduh, ini anak pinter banget sih, emang kalau aksi kemanusiaan harus menunjukkan siapa yang melakukan? Please deh!! Lagian kan mereka cari lokasi yang lebih ramai supaya dapat dananya lebih banyak, gimana sih?) Iya ya, hihihi... Perjalanan berlanjut ke jalan Bintaro Utama, dan disana terdapat aksi serupa. Wah benar-benar salut buat adik-adik ini. Rela berkorban dan benar-benar menjalankan anjuran presiden untuk melakukan tanggap darurat (apa seehh?). Kapan ya, aku dibukakan pintu hatinya dan jadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi?