Hah, akhirnya menemukan sesuatu yang patut diangkat untuk ditulis kedalam blog. Sore ini aku iseng jalan-jalan berkeliling karena kebetulan di kost sudah bete dan ga ada kerjaan. Sebenarnya aku tadi siang merencanakan untuk pergi, tapi karena tiba-tiba hujan deras dan sampai sore ini cuacanya masih mendung maka aku membatalkan rencana itu.
Aku seharian di kost hanya membuka laptop, browsing internet, chatting, cek facebook, nonton televisi, balik lagi ke laptop begitu seterusnya seperti labirin. Setelah mata perih, aku tidur siang, apalagi pas hujan, benar-benar mak nyus buat tidur. Bangun tidur, makan siang di warung padang, kemudian kembali lagi ke laptop dan menonton televisi. Headline untuk semua media baik koran (yang tadi aku lihat di warung padang), detik, kompas, dan televisi adalah tentang Tragedi Situ Gintung. Aduh sebenarnya aku mau nulis apa sih. Oh, iya gini gini, jadi karena tadi seharian aktivitasku hanya berputar-putar disekitar laptop, internet, dan televisi maka pada sore harinya aku mengalami kebosanan yang lumayan akut, sehingga aku memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling pakai motor sekedar untuk menghidup udara (yang ga tahu segar atau nggak, secara kan banyak kendaraan gitu deh). Itulah intinya. Aduh susah amat sih nyari conjuction atau penghubung suatu cerita.
Nah, disinilah bagian menariknya, ketika aku melewati jalan Ceger tepat didepan kompleks PJMI yang sering macet karena banyak kendaraan yang muter kearah Cipadu, aku melihat jaket yang begitu familiar tapi punyaku sendiri sudah raib sehingga aku tidak punya, yaitu jaket almamater STAN. Anak-anak STAN cowok dan cewek sedang melakukan aksi kemanusiaan dengan menggalang dana di jalan untuk disalurkan ke korban Tragedi Situ Gintung. Waduh, hebat juga tuh anak-anak. Dari tampangnya, aku menebak mereka anak-anak DIII (secara masih brondong-brondong gitu deh, emang aku yang sudah tuwir), padahal mereka, kan libur panjang karena habis UAS. Wow...salut deh, jiwa kemanusiaan mereka langsung terketuk untuk menyelenggarakan aksi kemanusiaan, sementara aku sibuk memantau apakah jalan menuju Ciputat-Lebak Bulus sudah lancar atau belum dan sibuk memantau cuaca, apakah akan menghalangi kalau aku pergi, selain sibuk browsing, cek facebook dan chatting tentunya. Seharusnya mereka kan mengikuti jejak-jejak temannya, pada pulang kampung nengokin enyak sama babenya, adiknya, kakaknya, embahnya, pamannya, pacarnya (kalau kebetulan punya pacar di kampung), atau kambingnya, siapa tahu kan? Tapi kok nggak, jangan-jangan ga punya ongkos lagi, hihihi... jahat banget sih! Sudah bagus memiliki jiwa kemanusiaan gitu dan seharusnya dicontoh malah dituduh yang nggak-nggak, siapa tahu kan mereka memang anak-anak yang rumahnya dekat-dekat sini. Yap, mari kita positif thinking.
Begitu lewat depan kampus STAN (masih di jalan Ceger), lho kok ga ada aksi disini, padahal kan seharusnya aksinya disitu juga ada karena berdekatan lokasi kampus, jadi orang tahu siapa yang mengadakan aksi itu. (Aduh, ini anak pinter banget sih, emang kalau aksi kemanusiaan harus menunjukkan siapa yang melakukan? Please deh!! Lagian kan mereka cari lokasi yang lebih ramai supaya dapat dananya lebih banyak, gimana sih?) Iya ya, hihihi... Perjalanan berlanjut ke jalan Bintaro Utama, dan disana terdapat aksi serupa. Wah benar-benar salut buat adik-adik ini. Rela berkorban dan benar-benar menjalankan anjuran presiden untuk melakukan tanggap darurat (apa seehh?). Kapan ya, aku dibukakan pintu hatinya dan jadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi?
Aku seharian di kost hanya membuka laptop, browsing internet, chatting, cek facebook, nonton televisi, balik lagi ke laptop begitu seterusnya seperti labirin. Setelah mata perih, aku tidur siang, apalagi pas hujan, benar-benar mak nyus buat tidur. Bangun tidur, makan siang di warung padang, kemudian kembali lagi ke laptop dan menonton televisi. Headline untuk semua media baik koran (yang tadi aku lihat di warung padang), detik, kompas, dan televisi adalah tentang Tragedi Situ Gintung. Aduh sebenarnya aku mau nulis apa sih. Oh, iya gini gini, jadi karena tadi seharian aktivitasku hanya berputar-putar disekitar laptop, internet, dan televisi maka pada sore harinya aku mengalami kebosanan yang lumayan akut, sehingga aku memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling pakai motor sekedar untuk menghidup udara (yang ga tahu segar atau nggak, secara kan banyak kendaraan gitu deh). Itulah intinya. Aduh susah amat sih nyari conjuction atau penghubung suatu cerita.
Nah, disinilah bagian menariknya, ketika aku melewati jalan Ceger tepat didepan kompleks PJMI yang sering macet karena banyak kendaraan yang muter kearah Cipadu, aku melihat jaket yang begitu familiar tapi punyaku sendiri sudah raib sehingga aku tidak punya, yaitu jaket almamater STAN. Anak-anak STAN cowok dan cewek sedang melakukan aksi kemanusiaan dengan menggalang dana di jalan untuk disalurkan ke korban Tragedi Situ Gintung. Waduh, hebat juga tuh anak-anak. Dari tampangnya, aku menebak mereka anak-anak DIII (secara masih brondong-brondong gitu deh, emang aku yang sudah tuwir), padahal mereka, kan libur panjang karena habis UAS. Wow...salut deh, jiwa kemanusiaan mereka langsung terketuk untuk menyelenggarakan aksi kemanusiaan, sementara aku sibuk memantau apakah jalan menuju Ciputat-Lebak Bulus sudah lancar atau belum dan sibuk memantau cuaca, apakah akan menghalangi kalau aku pergi, selain sibuk browsing, cek facebook dan chatting tentunya. Seharusnya mereka kan mengikuti jejak-jejak temannya, pada pulang kampung nengokin enyak sama babenya, adiknya, kakaknya, embahnya, pamannya, pacarnya (kalau kebetulan punya pacar di kampung), atau kambingnya, siapa tahu kan? Tapi kok nggak, jangan-jangan ga punya ongkos lagi, hihihi... jahat banget sih! Sudah bagus memiliki jiwa kemanusiaan gitu dan seharusnya dicontoh malah dituduh yang nggak-nggak, siapa tahu kan mereka memang anak-anak yang rumahnya dekat-dekat sini. Yap, mari kita positif thinking.
Begitu lewat depan kampus STAN (masih di jalan Ceger), lho kok ga ada aksi disini, padahal kan seharusnya aksinya disitu juga ada karena berdekatan lokasi kampus, jadi orang tahu siapa yang mengadakan aksi itu. (Aduh, ini anak pinter banget sih, emang kalau aksi kemanusiaan harus menunjukkan siapa yang melakukan? Please deh!! Lagian kan mereka cari lokasi yang lebih ramai supaya dapat dananya lebih banyak, gimana sih?) Iya ya, hihihi... Perjalanan berlanjut ke jalan Bintaro Utama, dan disana terdapat aksi serupa. Wah benar-benar salut buat adik-adik ini. Rela berkorban dan benar-benar menjalankan anjuran presiden untuk melakukan tanggap darurat (apa seehh?). Kapan ya, aku dibukakan pintu hatinya dan jadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar