Selasa, 31 Maret 2009

Catatan Makan Malam


Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB dan aku sedang merencanakan untuk makan malam (sendiri). Seharian ini karena ingin sedikit menekan laju berat badan, aku mengkonsumsi sedikit makanan yaitu sarapan hanya dengan sepotong pepaya, dan makan siang dengan indomie rebus pakai telor dan bakso sapi ditambah enervon C plus pisang sebagai buah (sedikit atau banyak tuh ya? Hehe). Alhasil malam ini aku begitu lapar.

Sempat terpikir untuk meluncur ke Bebek Goreng, tapi atas saran seorang teman, aku batalkan karena takut dapat sisa-sisa. Akhirnya mantap sudah tujuanku, aku ingin makan tongseng kambing.

Aku segera meluncur ke tempat kejadian perkara. Suasana disana cukup ramai dengan serombongan keluarga besar yang sudah menikmati makanannya. Pelayan segera menghampiriku untuk mencatat pesananku : tongseng kambing, nasi putih dan es teh manis. Setelah itu aku menunggu pesanan tersebut siap disajikan. Dan inilah rentetan kejadian ketika masa menunggu sampai pesananku siap disajikan.

Kejadian pertama adalah aku melihat sepasang manusia yang turun dari motor dan menuju ke Soto Lamongan. Salah satu dari mahluk itu sangat tidak asing bagiku. Tubuhnya cukup tipis dan langsing, dialah Pujiyanto. Sayangnya jarak yang cukup jauh tidak memungkinkanku untuk berteriak memanggilnya, aku kan orang yang well behave, hehehe... Soto Lamongan-nya sepertinya sudah habis maka dua mahluk itu pindah ketempat lain.

Kejadian kedua adalah salah satu anak dari rombongan keluarga besar itu, naik ke meja makan masih lengkap dengan sepatu kotornya, kemudian berteriak-teriak, padahal hanya untuk mengambil kerupuk. Aduh, untung lagu yang aku dengerin dari HP-ku adalah “I Have Nothing”-nya Whitney Houston yang slow abis itu. Coba kalo Guru Josh Project dengan Infinity-nya, mungkin akan menginspirasinya untuk ikut naik ke meja kemudian nge-dance layaknya sexy dancer pada waktu di 66 club Bali beberapa waktu lalu. Arghh, maksudnya begini, kenapa sih tuh anak ga diajarin yang bener (mungkin karena masih kecil kali ya, ya sudah biarin saja lah). Tapi kayaknya nanti aku akan menemukan jawabannya di kejadian ke empat.

Kejadian ketiga adalah diseberang jalan aku melihat Yasser dan temannya. Mereka sedang ingin makan malam juga, dan sepertinya mereka memilih Mie Gayeng Jogja atau Sate Ponorogo, warung sebelah. Kejadiannya serupa dengan Pujiyanto karena jarak yang jauh dan aku adalah orang yang well behave, maka aku tidak berteriak untuk memanggil dua mahluk itu.

Kejadian ke empat persis terjadi sesaat sebelum pesananku disajikan. Aku yang sudah sangat kelaparan tiba-tiba jadi sedikit emosi. Kejadiannya begini, si Bapak dari rombongan keluarga besar itu sudah selesai mengurus administrasi makan malam itu, kemudian dia menghampiri meja makannya tadi yang sekarang tinggal istri dan anaknya yang besar, sementara anggota lain sudah ngacir ke mobil. Ketika anaknya mau berdiri untuk mengikuti rombongan lain, tiba-tiba didorong sama si Bapak sampai kembali terduduk di kursinya sambil tertunduk. Kemudian diomel-omelin macem-macem. Intinya si Anak bermasalah karena tidak mengerjakan PR dan kena marah gurunya, dan guru ini menyampaikan ke Ibunya. Sayang seribu sayang keluarga ini memilih “pengadilan” untuk anaknya ditempat umum yang buntutnya menyita banyak perhatian karena si Anak sampai nangis sesenggukan. Tadi saja waktu ndengerin bapaknya ngomel-ngomel, pengen banget rasanya mengeluarkan kata-kata “CUT”, xixixi...

Si Anak dituduh kebanyakan main sampai lupa mengerjakan PR. Hmm... tiba-tiba memoriku berputar ke beberapa tahun lalu ketika umurku seumuran tuh anak. Gila! bermain? Aku pengen banget bermain. Tapi ketika seumuran anak itu, Please ya, jangankan bermain meskipun itu hari minggu atau liburan sekolah, ibuku memerintahkan TIDAK BOLEH BERMAIN. Aku harus menjemur gabah dan perintah itu merupakan harga mati kalau sudah keluar sebagai perintah ibuku. Sementara menunggui gabah supaya tidak dimakan ayam, burung atau keduluan dengan hujan, aku membayangkan bisa bermain kelereng, gambar, atau betengan sama teman-teman. Masa kecil yang suram, hihihi.... makanya Nak, lanjutkan perjuanganmu, terus saja bermain, bermainlah sebelum bermain itu dilarang tapi jangan lupa mengerjakan PR, kalau ga boleh bermain laporkan ke Kak seto saja, hihihi...kok aku ngajarin jelek ya?

Pesanan sudah disajikan dan untung keluarga yang baru saja menjadikan tempat makan itu menjadi pengadilan untuk anaknya sudah kabur, kalau nggak bisa merusak selera makanku. Nyam..nyam.. enak dan kenyang. Terima kasih Tuhan.

Sabtu, 28 Maret 2009

Salut

Hah, akhirnya menemukan sesuatu yang patut diangkat untuk ditulis kedalam blog. Sore ini aku iseng jalan-jalan berkeliling karena kebetulan di kost sudah bete dan ga ada kerjaan. Sebenarnya aku tadi siang merencanakan untuk pergi, tapi karena tiba-tiba hujan deras dan sampai sore ini cuacanya masih mendung maka aku membatalkan rencana itu.
Aku seharian di kost hanya membuka laptop, browsing internet, chatting, cek facebook, nonton televisi, balik lagi ke laptop begitu seterusnya seperti labirin. Setelah mata perih, aku tidur siang, apalagi pas hujan, benar-benar mak nyus buat tidur. Bangun tidur, makan siang di warung padang, kemudian kembali lagi ke laptop dan menonton televisi. Headline untuk semua media baik koran (yang tadi aku lihat di warung padang), detik, kompas, dan televisi adalah tentang Tragedi Situ Gintung. Aduh sebenarnya aku mau nulis apa sih. Oh, iya gini gini, jadi karena tadi seharian aktivitasku hanya berputar-putar disekitar laptop, internet, dan televisi maka pada sore harinya aku mengalami kebosanan yang lumayan akut, sehingga aku memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling pakai motor sekedar untuk menghidup udara (yang ga tahu segar atau nggak, secara kan banyak kendaraan gitu deh). Itulah intinya. Aduh susah amat sih nyari conjuction atau penghubung suatu cerita.
Nah, disinilah bagian menariknya, ketika aku melewati jalan Ceger tepat didepan kompleks PJMI yang sering macet karena banyak kendaraan yang muter kearah Cipadu, aku melihat jaket yang begitu familiar tapi punyaku sendiri sudah raib sehingga aku tidak punya, yaitu jaket almamater STAN. Anak-anak STAN cowok dan cewek sedang melakukan aksi kemanusiaan dengan menggalang dana di jalan untuk disalurkan ke korban Tragedi Situ Gintung. Waduh, hebat juga tuh anak-anak. Dari tampangnya, aku menebak mereka anak-anak DIII (secara masih brondong-brondong gitu deh, emang aku yang sudah tuwir), padahal mereka, kan libur panjang karena habis UAS. Wow...salut deh, jiwa kemanusiaan mereka langsung terketuk untuk menyelenggarakan aksi kemanusiaan, sementara aku sibuk memantau apakah jalan menuju Ciputat-Lebak Bulus sudah lancar atau belum dan sibuk memantau cuaca, apakah akan menghalangi kalau aku pergi, selain sibuk browsing, cek facebook dan chatting tentunya. Seharusnya mereka kan mengikuti jejak-jejak temannya, pada pulang kampung nengokin enyak sama babenya, adiknya, kakaknya, embahnya, pamannya, pacarnya (kalau kebetulan punya pacar di kampung), atau kambingnya, siapa tahu kan? Tapi kok nggak, jangan-jangan ga punya ongkos lagi, hihihi... jahat banget sih! Sudah bagus memiliki jiwa kemanusiaan gitu dan seharusnya dicontoh malah dituduh yang nggak-nggak, siapa tahu kan mereka memang anak-anak yang rumahnya dekat-dekat sini. Yap, mari kita positif thinking.
Begitu lewat depan kampus STAN (masih di jalan Ceger), lho kok ga ada aksi disini, padahal kan seharusnya aksinya disitu juga ada karena berdekatan lokasi kampus, jadi orang tahu siapa yang mengadakan aksi itu. (Aduh, ini anak pinter banget sih, emang kalau aksi kemanusiaan harus menunjukkan siapa yang melakukan? Please deh!! Lagian kan mereka cari lokasi yang lebih ramai supaya dapat dananya lebih banyak, gimana sih?) Iya ya, hihihi... Perjalanan berlanjut ke jalan Bintaro Utama, dan disana terdapat aksi serupa. Wah benar-benar salut buat adik-adik ini. Rela berkorban dan benar-benar menjalankan anjuran presiden untuk melakukan tanggap darurat (apa seehh?). Kapan ya, aku dibukakan pintu hatinya dan jadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi?

Sabtu, 29 November 2008

Pesta Durian


Sebenarnya acara pesta durian ini sudah direncanakan sejak lama. Waktu itu pas lagi ngerjain artikel “Magazine Project” dari Dosen bahasa inggris. Awalnya untuk membahas artikel “Magazine Project” itu, berkumpullah dikostku, 2 sekawan (Maya dan Ratna) untuk mengubah rekaman hasil wawancara yang sudah kita laksanakan hari Jum’at ke bentuk tulisan dengan narasumber Wayan. Tapi ya gitu deh, namanya juga ibu-ibu, yang ada kita ngerumpi dulu bukannya membahas pekerjaan yang semestinya, dari rumpian itu, melebar-melebar, dan akhirnya malah sampai ngomongin durian. Karena didepan Harmony sepertinya masih ada mobil pick up yang mangkal jualan durian, maka untuk menghindari pekerjaan men-translate hasil wawancara itu, aku menawarkan diri untuk mencari durian. Si dua sekawan, karena secara mereka memang pecinta durian (bukan pecinta duda irian lho!!), menyetujui penawaranku dengan muka kegirangan karena akan menikmati durian.

Akhirnya aku melaju ke depan Harmony dengan motorku, sementara si dua sekawan aku tinggal dikost. Sepertinya si Maya malah browsing blog dan friendster Wayan. Proses tawar menawar dengan penjual durian tidak menarik untuk diceritakan, jadi langsung saja pada kesimpulan aku jadi membeli 3 buah durian dan aku segera kembali ke kost dengan membawa durian. Sesampai di kost aku tanya, sudah sampai mana menyalin rekamannya? Dengan settingan muka khas Maya –yang tidak pernah tidak dihiasi dengan senyum- hanya bilang “belum ngerjain, saya lagi chatting untuk minta pendapat teman-teman tentang Wayan?”. Excuse yang bagus, menurutku. Dengan sedikit bijaksana aku mengusulkan, “durennya dimakan dulu aja yuk!”

Kita menikmati tiga durian itu tanpa jeda, begitu yang satu habis yang satunya dibelah. Sayangnya duren yang pertama sama sekali tidak berasa, duren yang kedua berasa tapi tidak begitu manis, plus ada satu bagian yang busuk. Baru pada duren ketiga yang OK! (T2 kaleee....). Nah, secara kan ibu-ibu, ga mungkin dong makan ga sambil ngerumpi, ketika lagi makan itulah gara-gara si dua sekawan menceritakan suka beli Durian Montong di Total Buah Segar, terus di tambahin katanya puas deh pokoknya, aku jadi sedikit (eh banyak kali ya) tertantang, dan akhirnya nyeplos-lah kata-kata begini “Bagaimana kalau kapan-kapan, kita pesta Durian?”, dan tentunya mereka tanpa saling menatap tidak percaya lebih dahulu langsung bilang “mauuuuu.........”

Semenjak itu, aku rajin browsing membuka www.carrefour.co.id, siapa tahu ada katalog yang mencantumkan durian montong plus harganya dan ke Total Buah Segar, hanya buat ngecek harga. Sayangnya di katalog Carrefour tidak ada, dan di Total harga sekilo durian montong masih dua kali lipat(bahkan lebih) harga sekilo telur ayam curah, makanya dengan sangat terpaksa acara pesta durian-nya masih berstatus pending, eh waiting approval (aduh, dipikirnya friendster kali ya bo’), bahkan sampai UAS belum terlaksana.

UAS minggu pertama usai, weekend adalah kewajibanku untuk berkunjung ke Cijantung. Yap, aku ketempat bapak dan ibuku (mungkin banyak temanku yang belum tahu, kalau bapak dan ibuku di Cijantung). Ketika itu pula terbersitlah pencerahan, pencerahannya begini : bukannya disini dekat dengan Pasar Induk Kramat Jati (yang belum tahu Pasar Induk Kramat Jati, pasar ini khusus berjualan sayur-mayur dan buah-buahan, catet itu!), pastinya ada Durian dong, kayaknya didepan pasar induk ada kios khusus jualan durian deh (aduh, kios apa lapak ya? Lupa deh). Masa di Ceger Raya saja ada, di Kramat Jati ga ada? Sangat amat tidak mungkin gitu lho. Invasi akhirnya dimulai, dan aku berhasil membawa 2 durian dari sana. Adanya durian lokal dan harganya? aduh ga perlu disebut kali ya, takut ketahuan kalo ga bisa nawar (tapi kalau nawarin diri pinter, kan?-aduh siapa sih yang nyeletuk?-). Satu durian aku belah disana dan rasanya mmmmm..... enaaaakkkk..... yang satu lagi aku bawa ke kost. Di kost aku makan sama temanku dan rasanya ga kalah enak. Ketika menikmati durian itu, aku kembali nyeletuk “ kalo tadi duriannya bawa ga hanya satu aku undang deh Maya sama Ratna, soalnya kita dah bikin plan untuk ngadain pesta durian”. Temenku bilang “jadi, gue ga diajak?”, akhirnya “Ok, officially, u are the member of Durian Party”.

Hari terakhir UAS. Aku membuka kembali lembaran kisah mengenai pesta durian dihadapan ibu-ibu, tapi sepertinya ibu-ibu itu sedang merencanakan acara mereka sendiri. Aku pikir awalnya mereka sedang membicarakan pengen ganti model rambut bareng-bareng di salon mana gitu, eh ternyata mau masak-masak bareng. Karena waktunya bentrok, ya sudah acara pesta duriannya ngalah atau diundur, atau tidak diundur tapi “joint venture” dengan acara ibu-ibu dengan satu syarat, Anggota baru itu mau bergabung dengan acara ibu-ibu. Tapi apapun keputusannya yang jelas aku mesti hunting duriannya dulu. Sudah aku batin sebenarnya, pasti si anggota baru ini ga mau gabung sama ibu-ibu (aduh, takut ga kelihatan macho atau gimana ya, dalam pikiran si anggota baru itu? aduh sutralah bo’ gw ga tahu alasannya). Akhirnya pesta durian diundur besoknya, dengan konsekuensi, aku harus menyimpan durian-durian itu supaya baunya terkendali. Durian itu aku bungkus plastik dan aku masukkan kardus, kemudian aku tutup rapat-rapat. Tapi tetap saja, sepandai-pandai orang menyimpan durian, baunya akan tercium juga. Hikz...semalaman aku mabok bau durian.

Paginya dapat sms kalau tim “Magazine Project” harus berkumpul. Mau tidak mau aku harus kumpul. Setelah melewati pertemuan yang kurang efektif itu (acara direncanakan mulai pukul 9, tapi baru dimulai pukul 11, dan selesai pukul 12:30), sesampainya dirumah aku mengirim sms ek member durian party “are u ready for durian party?”. Si anggota baru membalas sms-nya begini “jam berapa? Baru bangun”. Hah?!!!??? (ini adalah ekspresiku – ekspresi menanggapi tentang baru bangunnya itu- ketika sedang membaca sms-nya itu, tentunya dengan mulut sedikit menganga dan alis terangkat-semoga tidak ngondek-. Semoga itu tidur siang, kalau dari semalam tidurnya dan jam 13:15 baru bangun, bisa disiram ibuku kalau subjek-nya itu adalah aku atau anggota keluargaku). Sementara si dua sekawan tidak membalas sms, tetapi langsung telpon.

“jam berapa rencananya? Kita sedang masak nasi goreng, hihihihi....” (bener ga ya, menggambarkan ekspresi tertawa Maya dengan kata-kata berhuruf H dan I itu?)

“rencananya jam 2 ini”

“aduh ga bisa win, soalnya baru mau mulai masaknya, kalau mau kamu kesini aja, hihihihi...(lagi)”

Well, aku harus ambil keputusan

“(aduh masak wae ki jane sing dimasak opo to yo?-dalam hati-) ya udah deh aku coba hubungi anggota baru itu, kalau dia tetep ga mau, nanti aku tinggalin satu durian buat dia, yang lain aku bawa kesana aja, kita makan ramai-ramai, soalnya kalau lama-lama disini, aku yang mabok sama baunya” (sebenarnya tidak terdengar diplomatis), tapi.....

“horeeeeeee...........” untung tanpa hihihi...

Waktu itu motorku lagi dipinjem sama Estin. Katanya dia mau ke Bank terus shopping. Ketika deal dengan acara ibu-ibu itu aku sms Estin. Beberapa menit kemudian dia membalas dan aku malah berhasil menyandera dia untuk gabung dengan acara ibu-ibu itu dan menemaniku kesana. Saat itu juga aku meluncur ke lokasi yang dituju (kontrakannya Fenny) dengan sepeda motor (footnote: aku mbonceng motor, yang ngendarain tetep Estin, alasanku karena aku bawa duren, hehehe, padahal se-STAN dah pada maklum akan kemampuanku naik motor). Sampai di lokasi bertepatan dengan nasi goreng buatan Tika matang, akhirnya kita berenam (Estin, Fenny, Atika, Maya, Ratna, dan Wina-ooppss-) menikmati dulu nasi gorengnya. Bocoran: pukul 13:00 aku baru selesai makan di bu Bor, dan ketika disuguhkan nasi goreng aku tetap ga nolak, itupun dengan porsi yang terbanyak, ampun DJ! gimana kagak gendut. Selesai makan nasi goreng buatan Tika yang enak –jujur Tika, enak, nanti bikin lagi hya....-, kita mulai “Pesta Durian” yang ditunggu-tunggu (kayaknya yang nunggu hanya aku, Ratna dan Maya, sementara yang lain biasa-biasa aja). Ahhh, akhirnya terwujud juga rencana pesta duriannya setelah melewati perjuangan dan alur cerita yang berliku-liku. Dan sumpah rasa duriannya enaaakkkkkk.....

Kamis, 20 November 2008

Nasib Display Image-ku


Kemaren waktu lagi iseng-iseng buka-buka folder Pictures di laptopku, aku menemukan fotoku yang sedikit unik. Aku ingat waktu pengambilan foto itu, yaitu sewaktu pulang dari kampus. Waktu itu aku langsung buka kemeja dan dengan hanya memakai singlet aku mengambil foto. Awalnya untuk menganalisa apakah aku memang gemuk seperti yang teman-teman bicarakan, dan seberapa gemuk sih? Setelah aku lihat foto itu, aku sedikit ketawa, ah ga gemuk banget kok. Terus tiba-tiba ada bola lampu nyala diatas kepalaku, kayaknya lucu deh kalau ditampilin sebagai display image di Yahoo!Messenger. Hmm, bukan ide yang buruk, tapi aku harus mengedit dulu karena fotonya terlalu gelap.
Di laptopku sebenarnya ada Photoshop, tapi aku ga begitu paham menggunakannya (dasar gaptek), jadi aku pakai Microsoft Office Picture Manager aja. Setelah masuk pertama-tama aku crop dulu dong, supaya lebih sedikit saja bagian tubuhku yang terlihat (ciyeeee....). Setelah crop bawah, samping kanan dan samping kiri, saatnya diatur warnannya nih. Kayaknya terlalu gelap, setelah ngutak-atik brightness dan contrast-nya aku putuskan untuk meng-klik gambar disket di tampilan itu. Foto itu sengaja aku bikin contrast-nya tinggi sehingga menjadi merah. Jadilah foto yang ditampilin ini.
Kemudian langkah selanjutnya, memasukkan ke Yahoo!Messenger sebagai display image, rasanya aku bosen dengan foto yang itu saja (foto memakai t-shirt biru). Aku klik display image kemudian search dan kemudian klik OK. Aku menggantinya memang dalam status invisible. Setelah selesai aku mengubah statusku menjadi available dan siap chat. Karena ga ada satu temankupun yang online, akhirnya aku sign out dan tidur.
Setelah mengganti display image itu, ketika malamnya chat, seorang temenku berkomentar
nur_azizah_eka_wardani : fotomu win, nggilani....
budi_art : hah, mosok sih jeng? Ga bermaksud melanggar UU pornografi kok
budi_art : cuma ingin menujukkan kebotakanku aja kok
nur_azizah_eka_wardani : oo...
Selesai satu masalah, pikirku. Tiba-tiba :
phix_chenko : hai, pelanggaran terhadap UU pornografi
budi_art : hah?
phix_chenko : pasang nomer hp ae sekalian, sapa tahu ada yang nawar
Arghhhhhhhhhhhhhhh..... sudahlah daripada semakin menjadi kontroversi (halah, bahasanya) aku putuskan mengganti display image itu dengan yang lain. Oh nasib display image-ku.

Kamis, 13 November 2008

Mie Rebus ala Winarno


Ga tahu kenapa sejak masuk kuliah lagi dari libur lebaran kemaren, aku gemar membuat mie rebus sendiri. Mungkin karena setiap bulan aku ditarikin uang gas, jadi tidak ada salahnya memanfaatkan gas didapur. Oke, mie rebus ala aku adalah seperti berikut ini:

Bahan-bahan:

Mie instan kuah (biasanya aku pakai Indomie) 1 bungkus

Baso (biasanya aku pakai bakso So Good) 2 buah

(yang satu disayat vertikal dan horizontal sehingga akan mengembang waktu matang, dan yang satunya lagi diiris tipis)

Telur ayam 1 butir

Sawi secukupnya (biasanya 2 tangkai dan aku ambil daunnya saja)

Bumbu pelengkap :

Bawang putih (aku biasanya pakai bawang kating, karena lebih sedap) 1 siung

Bawang merah 1 siung

Cabe rawit hijau 5 buah

(semua bumbu pelengkap diiris tipis)

Cara Memasak:

1. Campurkan bakso, sawi, bawang merah, bawang putih, cabe rawit hijau, dan bumbu yang ada dalam kemasana mie instan termasuk minyaknya menjadi satu dan panaskan hingga mendidih

2. Setelah mendidih masukkan mie instan dan tunggu selama 3-5 menit sambil sesekali diaduk supaya mie matangnya merata

3. Kemudian rasakan kuahnya, apakah terlalu asin atau malah kurang asin. Kalau aku biasanya memberi air yang kurang dari takaran sehingga biasanya terasa terlalu asin, dan aku akan menambahkan sedikit air, tetapi kalau terlanjur kurang asin karena kebanyakan air, maka aku biarkan lama sampai airnya berkurang

4. Setelah itu masukkan telur ayam keatas mie. Aku biasanya suka meletakkan telur tersebut langsung diatas mie kemudian aku ratakan diatas mie tersebut. Sehingga ketika telur sudah dimasukkan lebih baik diaduk dan diratakan. Telur ini akan membuat kuah mie sedikit mengental

5. Angkat, mie siap disajikan

Selamat Mencoba

Asal-usul nama Budi

Namaku memang secara resmi yang diakui dalam dokumen-dokumen data pribadiku seperti Ijazah, KTP, Kartu Keluarga, SIM, Akta Kelahiran adalah Winarno. Tetapi aku punya nama lain yaitu Budi. Nama ini cukup populer di dunia virtual, dan sekarang teman-teman sekelasku sebagian juga sudah tahu namaku itu.

Sebenarnya namaku memang terdiri dari dua nama, nama depan Winarno dan nama belakang Budiarto. Seperti kebanyakan orang jawa, nama belakang yang dipakai bukan nama marga karena memang orang jawa tidak mengenal marga layaknya orang batak. Nama ayahku sendiri Darno Pawiro, maka kalau memakai marga tentunya namaku akan menjadi Winarno Pawiro, sedikit terdengar tidak lazim meskipun nama Winarno Budiarto juga terdengar aneh.

Kenapa nama belakangku bisa tidak muncul? Nah begini ceritanya, aku waktu kecil langsung masuk ke SD tanpa mengenyam TK alias Taman Kanak-kanak. Waktu masuk pertama kali, oleh guruku aku cuma dipanggil nama depanku saja. Waktu itu aku tidak protes dan rasanya memang tidak perlu. Setelah tingkat 2 ketika aku sudah mengakhiri masa buta huruf, namaku oleh guruku tetap dipanggil yang depan saja, katanya waktu konfirmasi ke guru tingkat satu dulu, ketika menitipkanku ke SD itu, orang tuaku cuma menyebutkan nama itu. Sepertinya orangtuaku takut menyebutkan nama yang agak panjang karena rata-rata temanku memang bernama pendek-pendek seperti Siswadi, Nuryanto, Wiratno, Tumin, Supardi, Gino, Suyatno, Suyono, Ermanto, Triyanto dan nama panjang hanyalah Wahyu Prihananto itupun pindahan dari SD lain waktu kelas 2. Sedangkan dari pihak siswa perempuan daftar nama yang ada seperti Lagiyem, Sulastri, Warsiti, Sulasmi, Sutarmi, Jumiyem, Menik, dan yang agak panjang Erna Fatmawati dan Tersiyatmi Retno Dewi. Maka dengan kondisi seperti itu, dipanggil nama depan saja aku malah lebih nyaman, lebih down to earth dan matching dengan nama teman-temanku yang lain daripada kalau dipanggil Budi.

Setelah menjalani proses belajar 6 tahun, diakhir kelas 6 saat diterbitkan ijazah nama yang muncul juga hanya Winarno saja ketika disuruh tanda tangan dan cap tiga jari. Ketika aku menanyakan, wali kelasku cuma mengatakan tidak apa-apa, justru kalau mau diubah prosesnya lama. Aku hanya bisa menyetujui keterangan itu. Dan sejak itu semua dokumen-dokumenku merujuk ijazah SD-ku sebagai dokumen sumber untuk pedoman penulisan datanya, seperti ijazah SMP, ijazah STM, KTP, Kartu Keluarga dan bahkan Akte Kelahiran, karena kebetulan Akte Kelahiranku dicarikan ketika aku sudah STM itupun aku harus mengejar-ngejar orang tuaku yang kesadarannya agak kurang untuk hal-hal seperti itu.

Ketika tahun 1999, internet mulai booming di Solo. Dimotori oleh temanku yang memang mempunyai sifat selalu ingin tahu, dia berhasil mempengaruhi teman-teman sekelasku untuk mencoba internet dan paling tidak membuat e-mail katanya. Aku termasuk yang terpengaruh itu. Ketika di warung internet yang waktu itu kita kesana berempat, dua temenku seperti mendapatkan mainan baru, kebetulan dia mendapatkan lokasi yang tertutup dan oleh penjaga warnetnya yang waktu itu juga berperan sebagai asisten karena internet memang benar-benar barang baru, diberi tahu begini “ sambil nunggu loading, mendingan sambil buka ini lho..!” dan sejak itu temanku tidak banyak bertanya lagi, entah apa yang dibuka. Yang terdengar hanyalah bunyi klik dari mouse yang dipencet-pencet. Sementara aku dapat tempat yang sangat terbuka dan temanku itu men-tentirku bagaimana membuat e-mail, sesuatu yang waktu itu aku bahkan tidak tahu untuk apa. Ketika memasukkan namaku, pendaftarannya tidak berhasil. Kata temanku e-mailnya sebaiknya dua kata, belakangnya pakai angka saja atau nama tapi dipisah dengan underscore. Setelah aku berpikir akhirnya ketemu kata kedua, dan aku menanyakan underscore itu yang mana sebelum menuliskan nama belakangku. Setelah kembali didaftarkan ternyata sukses. E-mail itu adalah winarno_budiarto@yahoo.com. Akhirnya nama belakangku berfungsi lagi dan e-mail itu masih terpakai sekarang, meskipun sedikit menimbulkan pertanyaan pada beberapa orang yang pertama kali mengetahui itu. Ada yang menebak, nama cowok kamu, ya? Atau nama mantan kamu, ya? Dan beberapa pertanyaan atau tepatnya tebakan jayuz lainnya. Itu adalah nama belakangku.

Dan untuk lebih mempopulerkan nama belakangku, aku sengaja membuat account baru dengan alamat budi_art024@yahoo.com. Sebenarnya awalnya budiarto24 tapi tidak available, akhirnya aku ganti saja budi_art024, dimana sebenarnya tetap budiarto dan 24. 24 adalah umur waktu aku membuat e-mail itu. Belum lama ternyata. Dan itu semata supaya teman-teman pada nggak kaget ketika ada yang memanggilku Budi.